Kenapa Kita Butuh Energi Bersih untuk Menghalau Krisis Iklim?

Coba bayangin bumi kayak tubuh manusia. Selama puluhan tahun, kita “minum” energi dari batu bara, minyak, dan gas, cepat bikin kuat, tapi pelan-pelan merusak organ dalam. Sekarang, efek sampingnya mulai kerasa. Dan itu yang kita sebut krisis iklim.

Jadi, krisis iklim itu apa sih?

Singkatnya: bumi kepanasan.

Secara ilmiah, krisis iklim terjadi karena penumpukan gas rumah kaca di atmosfer, terutama karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O). Gas-gas ini bikin panas matahari yang seharusnya mantul keluar bumi malah “kejebak”, mirip efek rumah kaca.

Dan tahu nggak penyumbang terbesarnya dari mana? SEKTOR ENERGI.

Mengutip Our World In Data, secara global, sekitar 73% emisi gas rumah kaca dunia berasal dari sektor energi, mulai dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil, transportasi, sampai industri. Artinya, kalau kita serius mau ngurangin krisis iklim, energi adalah pintu masuk paling krusial.

Indonesia sendiri diperkirakan menyumbang sekitar 2,3% dari total emisi gas rumah kaca global pada 2022, angka ini bahkan lebih tinggi dibanding Jepang.

Dari sisi energi, penggunaan bahan bakar fosil masih jadi yang terbesar, terutama pembangkit listrik berbasis batubara, transportasi, dan industri.

Dampaknya ke hidup kita, bukan cuma ke beruang kutub

Sering kali krisis iklim digambarkan jauh dan abstrak. Es mencair di kutub. Beruang kutub kehilangan rumah. Tapi di Indonesia, dampaknya jauh lebih dekat:

  • Suhu makin panas → produktivitas turun, risiko kesehatan naik
  • Cuaca makin ekstrem → banjir, kekeringan, gagal panen
  • Kenaikan permukaan laut → kampung pesisir tenggelam pelan-pelan
  • Krisis pangan & air → harga naik, yang paling kena: kelompok rentan

Dan ini bukan prediksi futuristik. Ini sedang terjadi sekarang.

Data kenaikan suhu sampai 1940-2024. Sumber: The Climate Coalition

Badan Meteorologi Dunia mencatat, beberapa tahun terakhir adalah tahun-tahun terpanas dalam sejarah manusia. Indonesia sendiri mengalami peningkatan hari panas ekstrem dan perubahan pola hujan yang makin sulit diprediksi.

Dunia sudah sepakat: kita nggak bisa lanjut begini.

Karena ancamannya nyata, negara-negara di dunia akhirnya duduk bareng.

Tahun 2015, hampir seluruh negara di dunia menandatangani Perjanjian Paris (Paris Agreement). Intinya satu: menahan kenaikan suhu global di bawah 2°C, dan idealnya 1,5°C, dibandingkan era pra-industri.

Kenapa 1,5°C penting banget? Karena selisih setengah derajat aja bisa jadi pembeda antara pulau kecil masih ada, atau tenggelam, antara krisis masih bisa dikelola, atau jadi bencana permanen.

Indonesia sendiri menargetkan mengurangi emisi hingga 31,89% sendiri, atau hingga 43,2% dengan dukungan internasional pada 2030 sebagai bagian dari komitmen Perjanjian Paris.

Pemerintah juga menetapkan target menekan emisi dari sektor energi sebesar 358 juta ton CO₂ pada 2030 melalui energi terbarukan dan efisiensi energi.

Masalahnya: dengan sistem energi sekarang, dunia belum di jalur yang aman.

Makanya, di setiap COP (Conference of the Parties), satu isu selalu muncul lagi dan lagi: percepatan transisi energi dari fosil ke energi bersih. Di titik ini, energi udah bukan lagi tren, tapi keharusan.

Energi bersih—seperti surya, angin, air, panas bumi—punya satu keunggulan utama: emisinya JUAUHHHH lebih rendah dibanding energi fosil.

Kalau batu bara menghasilkan CO₂ dalam jumlah besar setiap kali dibakar, panel surya dan turbin angin menghasilkan listrik tanpa proses pembakaran. Artinya:

  • polusi udara turun,
  • emisi gas rumah kaca berkurang,
  • dampak kesehatan bisa ditekan.

Menurut berbagai kajian, tanpa transisi energi, target iklim hampir mustahil tercapai, bahkan kalau sektor lain sudah “hemat emisi”.

Tapi ini bukan cuma soal planet, ini soal manusia

Yang sering dilupain: energi bersih bukan cuma solusi lingkungan, tapi juga solusi sosial dan ekonomi. Energi fosil selama ini:

  • terpusat di tangan segelintir aktor besar,
  • bikin negara bergantung pada impor,
  • meninggalkan polusi di wilayah tertentu (biasanya dekat pemukiman miskin).

Sementara energi bersih—terutama yang terdesentralisasi—punya potensi:

  • dikelola komunitas,
  • buka lapangan kerja lokal,
  • bikin akses energi lebih adil.

Dengan kata lain, transisi energi bukan cuma tentang “mengganti sumber listrik”, tapi soal: bagaimana kita hidup, bekerja, dan berbagi sumber daya secara lebih adil di masa depan.

Jadi, kenapa kita butuh energi bersih?

Sederhananya karena:

  1. Tanpa energi bersih, krisis iklim makin tak terkendali
  2. Tanpa perubahan sistem energi, target global cuma jadi janji di atas kertas
  3. Tanpa transisi yang adil, dampaknya bakal ditanggung generasi muda paling lama

Energi bersih bukan solusi instan. Tapi ia adalah langkah paling masuk akal yang kita punya hari ini, untuk bumi yang masih bisa ditinggali, dan masa depan yang masih bisa dipilih. Jadi, masih ragu perlu transisi?

Kalau kalian punya saran topik atau isu yang mau dibahas di Bilik Belajar, kasih pendapatmu di kolom komentar ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *