Akankah Energi Terbarukan Mengakhiri Perang Energi?

can renewable energy end energy wars?

Energi terbarukan justru bisa bikin perang energi berkurang di masa depan.

Perang di Timur Tengah hampir selalu membawa kabar buruk bagi energi dunia. Ketika Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali terlibat dalam eskalasi militer pada akhir Februari lalu, pasar energi global langsung bereaksi. Bukan hanya karena konflik bersenjata, tetapi karena dunia tahu satu hal: sebagian besar minyak dunia masih datang dari kawasan yang sama, dan kawasan itu tengah memanas.

Salah satu titik paling sensitif ada di Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini setiap hari dilewati sekitar 18–19 juta barel minyak, hampir seperlima dari pasokan minyak global. Ketika konflik membuat jalur ini terancam terganggu, pasar energi tidak menunggu lama untuk panik.

Peta visual Selat Hormuz.
Sumber: IStock

Dalam hitungan hari setelah ketegangan meningkat, harga minyak dunia melonjak tajam. Minyak mentah Brent naik lebih dari 8 persen hingga sekitar 92 dolar AS per barel. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat menembus 115 dolar AS per barel, melonjak jauh dari kisaran 70 dolar sebelum konflik pecah.

Lonjakan harga ini memperlihatkan satu hal yang sebenarnya sudah lama diketahui: sistem energi global masih sangat rapuh. Selama minyak dan gas menjadi tulang punggung energi dunia, setiap konflik di kawasan produsen energi akan langsung merambat ke seluruh perekonomian global, mulai dari biaya transportasi, logistik, hingga harga barang sehari-hari.

Beberapa waktu terakhir, orang-orang dari berbagai negara—dari Inggris sampai Korea Selatan—beramai-ramai memborong bensin akibat panic buying bahan bakar.

Begitu pula di Indonesia, sejumlah warga serbu SPBU karena khawatir stok BBM menipis.  Antrean kendaraan dilaporkan mengular 1 km usai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan cadangan BBM nasional hanya tersedia untuk 23 hari.

Ratusan kendaraan memadati area SPBU di kota Medan karena panic buying warga.
Sumber: Kompas.com

Bagi negara seperti Indonesia, situasi ini menjadi alarm yang cukup keras. Ketergantungan pada energi fosil membuat ekonomi domestik ikut terseret setiap kali geopolitik dunia memanas. Karena itu, semakin banyak studi mulai melihat transisi energi bukan hanya sebagai agenda iklim, tetapi juga sebagai strategi untuk keluar dari lingkaran krisis energi yang terus berulang.

Mengapa demikian?

Kenapa energi fosil sering memicu konflik?

Selama puluhan tahun, banyak konflik besar di dunia selalu punya satu benang merah: energi. Ketika dunia mulai bergantung pada minyak untuk menggerakkan mobil, pesawat, pabrik, sampai kapal laut, minyak berubah dari sekadar komoditas biasa menjadi sumber kekuatan politik. Negara yang punya cadangan minyak besar bisa punya pengaruh besar. Sebaliknya, negara yang tidak punya minyak harus bergantung pada pasokan dari luar.

Dari perang di Timur Tengah, krisis gas antara Rusia dan Eropa, hingga invasi Rusia ke Ukraina, energi tidak pernah sekadar soal listrik di rumah atau bensin di pompa bensin. Energi adalah soal kekuasaan, siapa yang punya kekuasaan, siapa yang menguasai jalur distribusinya, dan siapa yang bergantung padanya.

Sejarah menunjukkan betapa kuatnya peran energi dalam geopolitik dunia. Pada 1973 misalnya, negara-negara produsen minyak di Timur Tengah sempat menahan pasokan minyak ke negara Barat. Dampaknya langsung terasa: harga minyak melonjak dan ekonomi global terguncang. Puluhan tahun kemudian, cerita serupa terulang, ketika Rusia menggunakan pasokan gas sebagai alat tekanan terhadap negara-negara Eropa. Ketergantungan energi membuat banyak negara tidak punya banyak pilihan.

Minyak bahkan sering disebut sebagai “darah” geopolitik modern. Masalahnya, sumber energi fosil memang sangat terkonsentrasi. 

Sebagian besar cadangan minyak dunia berada di kawasan Timur Tengah, sementara gas alam banyak terkumpul di Rusia dan beberapa wilayah tertentu lainnya. Ketika sumber energi hanya berada di beberapa tempat, wilayah itu otomatis menjadi pusat perebutan kepentingan global.

Bukan hanya sumbernya yang terbatas, jalur pengirimannya juga sangat penting. Minyak harus diangkut dengan pipa panjang atau kapal tanker raksasa yang melewati jalur laut tertentu seperti selat Hormuz.  

Jalur distribusi minyak dunia dan volumenya.
Sumber: Statista, 2023

Karena itulah setiap konflik di kawasan penghasil energi selalu membuat pasar dunia gelisah. Begitu ada perang atau ketegangan militer, harga minyak biasanya langsung melonjak. Bukan karena minyaknya langsung habis, tetapi karena pasar takut pasokan energi akan terganggu. Hal yang sama kembali terlihat dalam ketegangan terbaru antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Energi terbarukan bisa mengubah logika kekuasaan energi

Namun bayangkan kalau sistem energi dunia tidak lagi bergantung pada satu atau dua wilayah tertentu. Bayangkan kalau sumber energi bisa diproduksi di banyak tempat, bahkan di atap rumah, di ladang angin, atau di bendungan air. Di sinilah energi terbarukan mulai mengubah cara dunia memandang energi.

Berbeda dengan minyak dan gas yang cadangannya terkonsentrasi di beberapa wilayah, energi terbarukan pada dasarnya tersebar di banyak tempat. Matahari bersinar hampir di semua negara. Angin bertiup di berbagai wilayah pesisir dan dataran tinggi. Air mengalir di banyak sungai. Artinya, semakin banyak negara yang punya peluang memproduksi energinya sendiri.

Karena sifatnya yang tersebar, energi terbarukan juga tidak terlalu bergantung pada jalur distribusi global yang rumit dan memicu konflik. Minyak harus dikirim lewat kapal tanker atau pipa lintas negara. Gas harus mengalir melalui jaringan pipa panjang yang bisa menjadi alat tekanan politik. 

Gambaran perbandingan desentralisasi energi dengan energi terbarukan.
Sumber: Penelitian Swinburne University of Technology

Energi surya dan angin tidak membutuhkan semua itu. Panel surya bisa dipasang di atap rumah. Turbin angin bisa berdiri di banyak wilayah. Jika suatu negara bisa memenuhi sebagian besar kebutuhan listriknya dari matahari, angin, atau air, maka tekanan untuk menguasai ladang minyak atau jalur distribusi energi menjadi lebih kecil.

Selain itu, sistem energi terbarukan juga cenderung lebih terdesentralisasi. Jika energi fosil biasanya bergantung pada ladang minyak besar dan jaringan distribusi panjang, energi terbarukan bisa dibangun dalam skala lebih kecil dan tersebar di banyak tempat. Panel surya bisa dipasang di rumah, pabrik, bahkan sekolah. Turbin angin bisa berdiri di berbagai wilayah tanpa harus menunggu pembangunan infrastruktur raksasa.

Matahari tidak dimonopoli satu negara. Angin tidak melewati pipa geopolitik.

Dengan kata lain, energi terbarukan berpotensi mengubah peta kekuasaan energi dunia. Jika dulu pengaruh global banyak ditentukan oleh siapa yang menguasai minyak dan gas, di masa depan kekuatan energi bisa lebih bergantung pada teknologi, infrastruktur listrik, dan kemampuan mengelola sumber energi bersih.

Tapi perang juga bisa memperlambat transisi energi

Meski begitu, hubungan antara konflik dan energi terbarukan tidak selalu sederhana. Dalam banyak kasus, perang justru membuat transisi energi berjalan lebih lambat.

Ketika harga energi melonjak akibat konflik, banyak pemerintah biasanya fokus pada solusi jangka pendek. Negara membuka cadangan minyak strategis, meningkatkan produksi minyak dan gas, atau memberikan subsidi bahan bakar agar harga di dalam negeri tidak melonjak terlalu tinggi.

Langkah-langkah ini memang bisa menenangkan situasi ekonomi dalam jangka pendek. Namun dalam banyak kasus, kebijakan seperti itu justru membuat ketergantungan pada energi fosil bertahan lebih lama.

Perang juga membuat kondisi ekonomi global menjadi tidak pasti. Ketidakpastian ini sering membuat investor lebih berhati-hati. Padahal proyek energi terbarukan membutuhkan investasi besar dan stabilitas kebijakan dalam jangka panjang. Ketika situasi geopolitik memanas, banyak proyek energi bersih justru tertunda.

Seperti yang terjadi di Indonesia, Saat ini bauran energi terbarukan Indonesia masih relatif rendah. Padahal untuk mengejar target sekitar 23 persen energi terbarukan dalam sistem kelistrikan, Indonesia membutuhkan investasi sekitar 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp169 triliun per tahun.

Masalahnya, kebijakan energi di dalam negeri sering masih fokus pada solusi cepat. Ketika ada kekhawatiran krisis bahan bakar, wacana yang muncul sering berkisar pada peningkatan impor BBM atau memperluas bahan bakar berbasis sawit dan tebu seperti biofuel. 

Solusi seperti ini memang terlihat cepat, tetapi tidak selalu menyelesaikan masalah ketergantungan energi dalam jangka panjang. 

Dalam banyak kasus kebijakan ini hanya menjadi bentuk greenwashing dan deforestasi, alih-alih memperkuat ketahanan energi, pendekatan ini justru berisiko memperkaya industri komoditas besar tanpa benar-benar mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Berharap pada masa depan yang lebih bersih

Semakin banyak negara mulai menyadari bahwa ketergantungan pada energi impor membuat ekonomi mereka sangat rentan. Karena itu, konsep energy sovereignty atau kedaulatan energi mulai semakin sering dibicarakan, dan semakin perlu dipertimbangkan pemerintah.

Banyak ekonom sudah mengingatkan dan memberikan percontohan negara. Jepang misalnya. Meski sudah memiliki kapasitas bahan bakar minyak berumur 254 hari, negaranya masih punya 100 GW panel surya terpasang. Swedia memiliki 80 persen elektrifikasi kendaraan yang sudah mengadopsi energi terbarukan.

Eropa menjadi contoh yang cukup jelas. Setelah krisis gas akibat perang Rusia dan Ukraina, banyak negara di kawasan itu mempercepat pembangunan energi angin dan surya. 

Tujuannya bukan hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari satu negara. Semakin beragam sumber energi yang dimiliki, semakin kecil risiko ekonomi terguncang karena konflik geopolitik.

Pertumbuhan energi terbarukan di Eropa menyaingi produksi energi fosil.
Sumber: Ember, 2024 

Secara global, pembangunan energi terbarukan juga meningkat pesat. Laporan Renewables 2025 Global Status Report oleh IRENA mencatat bahwa dunia menambah lebih dari 700 gigawatt kapasitas listrik energi terbarukan hanya dalam satu tahun. Pertumbuhan konsumsi listrik global juga meningkat, dari 2,5 persen pada 2023 menjadi 4,3 persen pada 2024. 

Dalam laporan itu pula, diperkirakan permintaan listrik global dapat meningkat pula sampai hampir 220 persen hingga 2050, seiring dengan meluasnya penggunaan listrik di sektor transportasi, bangunan, dan industri.

Pertumbuhan energi terbarukan global.
Sumber: IRENA, 2020

Kendati demikian, banyak negara terbentur tantangan di sektor pendanaan dan kesenjangan teknologi. Banyak negara berkembang masih menjadi pengguna teknologi energi bersih, bukan pengembangnya. 

Menurut berbagai laporan internasional, sumber energi seperti air, surya, dan angin masih menyumbang sebagian kecil dari total sistem energi dunia. Investasi juga belum merata. Sekitar 120 negara berkembang hanya menerima sekitar 15 persen dari total investasi energi terbarukan global selama dua dekade terakhir.

Selama satu abad terakhir, energi sering menjadi alasan konflik. Tapi jika energi bisa diproduksi hampir di mana saja, mungkin dunia tidak lagi perlu berebut sumbernya. Meski lambat, perubahan itu sudah terjadi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah energi terbarukan akan mengubah dunia, tetapi apakah kita siap mengelola perubahan itu dengan lebih adil, atau justru membiarkan sistem energi baru kembali dikuasai oleh segelintir pihak saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *