Kabupaten Sumba Timur, yang terletak di Nusa Tenggara Timur, terasa berbeda dengan suasana yang biasa kita jumpai di kota-kota besar. Hampir tidak ada bisingnya suara klakson, maupun kepulan udara kotor dari padatnya kendaraan yang berlalu lalang. Bukit Tanau menyambut dengan tenang, bersama angin sejuk yang menerpa dan hamparan sabana yang sedang hijau seusai gerimis turun. Matahari pun enggan untuk absen, menerangi keindahan sejauh mata memandang.
Pulau Sumba begitu kaya dengan cahaya matahari, potensi sumber energi surya yang dimiliki perlu sekali dimanfaatkan sebagai energi alternatif yang dapat menyokong kebutuhan energi di desa-desa.

Peta Potensi Energi Surya Nusa tenggara Timur
Sumber: World Bank Group
Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi energi surya yang sangat menjanjikan dengan luas wilayah mencapai 11.244 km². Wilayah ini menawarkan profil radiasi matahari yang stabil, menjadikannya lokasi ideal untuk pengembangan sistem panel surya baik skala rumah tangga maupun skala besar. Secara teknis, Di NTT, setiap satu panel surya bisa menghasilkan listrik sebanyak 4,4 hingga 4,9 unit (kWh) setiap harinya. Sebagai gambaran, hasil ‘panen’ matahari seharian itu sudah cukup untuk menyalakan satu unit AC dengan daya 480 Watt selama 8 jam atau menghidupkan kulkas seharian penuh secara gratis.
Hampir seluruh wilayah NTT disinari matahari yang sangat terik dan konsisten setiap hari. Kondisi matahari seperti ini lah yang bisa membuat satu hamparan panel surya skala besar bisa menghasilkan 1 MWh listrik bersih dalam setahun. Hasilnya dalam setahun Panel Surya skala besar ini mampu menghidupkan sekitar 1.000 sampai 1.500 rumah tangga sederhana secara terus-menerus.



Peta Potensi Energi Surya Nusa Tenggara Timur – Mbatapuhu
Sumber: / Rizky Ahmad Fauzi, Alvin Arfiandi/Enter Nusantara
Sayangnya, walaupun udara bersih dan paparan cahaya matahari yang sangat tinggi, air masih sulit diakses oleh beberapa warga desa di Sumba Timur. Di sana, warga terbiasa berjalan jauh untuk mengisi jerigen-jerigen kosong dengan air untuk kebutuhan rumah tangga, ternak dan berkebun. Sulitnya akses terhadap air ini tentu berdampak pada tingkat sanitasi warga desa disana, penyakit seperti kasus ISPA, Dermatitis (penyakit kulit) serta angka penyakit diare dan kolera cukup tinggi.
Akses air merupakan kebutuhan dasar primer dan hak asasi manusia yang sangat krusial bagi kelangsungan hidup, kesehatan, serta rutinitas sehari-hari. Minimnya akses air juga berdampak pada menurunnya asupan makanan bergizi bagi orang dewasa maupun anak-anak, karena air yang dibutuhkan untuk menanam sayur dan memelihara ternak menjadi sangat terbatas.

Seorang ibu dan anaknya mengandalkan aliran air yang berasal dari sumur sedalam 127 meter.
Sumber: Alvin Arfiandi/Enter Nusantara
Salah satu desa yang kami kunjungi, yaitu desa Mbatapuhu yang berada di Sumba Timur menghadapi masalah serupa. Tantangan di desa ini tidaklah mudah, untuk memastikan pasokan air yang stabil, warga memutuskan untuk menggali sumur sedalam 127 Meter dan memasang pompa untuk mengaliri air dari sumber sumur. Yang menarik, ada upaya dan kemauan bersama dalam menyiasati tantangan krisis air yang mereka hadapi. Dengan mengandalkan pompa yang juga ditenagai Solar Panel (Solar Pump) yang telah dibangun sejak 2018 dari bantuan pemerintah setempat.
Kini, air tersebut tak lagi tersembunyi. Ia mengalir melintasi pipa sepanjang 1 Km menuju sekolah PAUD, memastikan anak-anak di sana juga tak lagi kesulitan mendapatkan hak dasar mereka untuk hidup sehat dan bersih.

Gedung PAUD di Desa Mbatapuhu, Sumba Timur.
Sumber: Alvin Arfiandi/Enter Nusantara
Namun, pemanfaatan energi surya ini tidak diiringi oleh adanya sekolah atau program pembelajaran bagi warga untuk memahami cara kerja dan merawat Solar Panel. Akibat dari absennya transfer ilmu ini, pompa sumur sempat tidak berfungsi karena Panel tertutup oleh debu sehingga penyerapan cahaya tidak maksimal.
Seharusnya program energi terbarukan tidak terhenti hanya pada pembangunan dan penyerahan semata, sudah sepatutnya menyertakan pendampingan edukasi warga agar benar-benar berdaya mengelola teknologi secara mandiri dan berkelanjutan. Karena energi bersih bukan hanya soal fungsi, tetapi juga menyoal akses sosial dan ekonomi yang berkeadilan, demi lingkungan dan kehidupan bersama yang lebih layak.

