Desa Teluk Dan Ancaman Perubahan Iklim

Beberapa hari setelah peristiwa tsunami 22 Desember 2018 di perairan Selat Sunda, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Banten dilanda banjir bandang yang datang bersama hujan. Derasnya curah hujan membuat air sungai Cipunten Agung meluap hingga membanjiri rumah-rumah warga. Mereka yang dua hari sebelumnya menyelamatkan diri dari hantaman tsunami, terpaksa harus kembali menuju tempat-tempat pengungsian. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan Desa Teluk terendam banjir selama berhari-hari. Meskipun tidak banyak merenggut korban jiwa, namun masyarakat setempat mengalami kerugian material yang jumlahnya begitu besar.

Berkat bantuan dari para relawan dan komunitas di berbagai kota, Enter Nusantara berkesempatan untuk datang ke lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan yang telah dipercayakan kepada kami secara langsung. Untuk memastikan bantuan tersebut sampai kepada orang yang tepat, kami berkoordinasi dengan para pemuda setempat. Memastikan juga mendata jumlah serta keberadaan dari warga Desa Teluk yang benar-benar membutuhkan bantuan. Selain dengan menerapkan sistem kupon, mereka juga ikut mencatat mana saja warga yang paling terdampak oleh bencana tersebut.

Setiap harinya, selama kondisi masih memungkinkan para warga akan pulang ke rumah untuk memantau kondisi tempat tinggal serta harta benda di rumah-rumah yang terendam oleh banjir. Pada kesempatan inilah kami bersama para pemuda setempat bersama-sama menyisiri lokasi kejadian untuk membagikan kupon tersebut. Sembari berkeliling membagikan kupon bantuan, kami menyaksikan sendiri bahwa banjir disini bukan hanya disebabkan oleh faktor cuaca. Desa yang berlokasi tepat di sisi muara sungai ini, juga dibangun begitu rapat dengan sungai.

Kondisi warga Teluk saat membenahi rumah mereka dalam kondisi banjir

Kapal-kapal nelayan yang menjadi sumber mata pencaharian warga habis dihancurkan oleh gelombang pasang yang datang saat peristiwa tsunami. Puing-puingnya mengendap dan menyumbat aliran sungai yang di sepanjang badannya telah dibangun areal pemukiman. Menghalangi muara sungai untuk melaksanakan tugasnya dalam mengalirkan air sungai kembali ke laut.

Akibatnya, air yang datang dari hulu menggenangi sebagian besar wilayah Desa Teluk. Ditambah dengan rapatnya pemukiman, air  semakin sulit untuk mencari jalan keluar agar tidak menggenangi wilayah tersebut. Jika dijumlahkan, para nelayan dalam bencana ini telah kehilangan sekitar 194 kapal dengan total kerugian mencapai 15 milyar. Hal ini belum ditambah dengan kerusakan material lainnya seperti hilangnya tempat tinggal akibat ambruk dan tergerus banjir, hingga dampak psikologis yang dialami oleh anak-anak.

Kondisi sungai Cipunten Agung yang dipenuhi puing-puing perahu yang hancur saat gelombang tsunami.

Disamping status Gunung Anak Krakatau yang masih siaga, peringatan BMKG akan adanya potensi hujan besar akibat siklon tropis, tentu membuat masyarakat menjadi resah. Belum habis rasa takut akan kembalinya gelombang pasang, kini mereka diharuskan untuk lebih waspada terhadap ancaman lain yang akan memperparah kondisi disana. Karena ketika hujan kembali datang, warga harus kembali bersiap menghadapi banjir yang juga akan datang.

Siklon tropis seringkali dikaitkan sebagai kondisi yang diakibatkan oleh adanya perubahan iklim. Sebagai bentuk dari anomali cuaca, ia berkaitan erat adanya dengan peningkatan suhu iklim bumi yang semakin meningkat. Hal ini dilihat dari penyebab terjadinya siklon tersebut yang dipicu oleh menghangatnya suhu air laut. Proses penguapan air laut yang mengembun pada ketinggian ini seringkali menyebabkan kondisi cuaca menjadi ekstrim.  Mendatangkan angin ribut, ombak besar, hingga hujan deras dengan Intensitas yang jumlahnya cukup tinggi. Menimbulkan bencana dan kerusakan bagi manusia, serta menghilangkan nyawa dari banyak orang.

Siklon tropis ini sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Sejak tahun 2008, tercatat sudah tiga kali kita berhadapan dengan siklon ini. Badai Cempaka adalah salah satunya. Sebagai badai terburuk yang datang sejauh ini. Menurut catatan yang dimiliki oleh Dr. Armi Susandi, seorang ilmuwan cuaca dan perubahan iklim dari Institut Teknologi Bandung (ITB), pada era 1980an, kita belum mengenal adanya istilah siklon tropis. Istilah ini baru kita kenal pada periode akhir 1990an dan 2000an, ketika siklon ini mulai memasuki wilayah Indonesia. Namun pada saat itu posisinya masih jauh dari pantai sehingga nyaris tidak berdampak pada masyarakat. Namun, beberapa waktu ini siklon tropis rupanya semakin bergeser mendekati katulistiwa. Sesuatu yang sebenarnya merupakan kejanggalan karena normalnya siklon ini bergerak menjauhi wilayah tropis, menuju wilayah sub tropis dan akan hilang dengan sendirinya saat memasuki wilayah yang suhunya lebih rendah.

Barang-barang warga desa Teluk yang berserakan saat terjadi banjir

Badai Cempaka yang pernah menghantam wilayah Pacitan pun bukan merupakan siklon tropis yang sebenarnya. Dengan jarak sejauh 32 kilometer dari wilayah pantai,kecepatan 150km/jam dengan curah hujan 150-200 milimeter per 3 jam, Armi mengatakan bahwa badai yang menghantam Pacitan hanyalah sepertiga dari angka tersebut. Hanya ekornya saja, mampu memporak porandakan wilayah Pacitan pada tahun 2017.

Armi Susandi adalah salah satu orang yang percaya bahwa pemanasan global berperan penting  dalam bencana tersebut. Meningkatnya suhu telah menyebabkan anomali cuaca di banyak daerah termasuk di Indonesia. Menurutnya,meskipun Indonesia bukan penyumbang terbesar pemanasan global namun bumi memiliki satu atmosfer, maka anomali bisa terjadi dimanapun. Dalam sebuah pernyataannya yang dimuat oleh jurnal online, VOA, beliau juga menyatakan kekagetannya akan keberadaan siklon ini. Biasanya siklon tropis terjadi di wilayah Filipina, disanapun pada tahun 80an siklon hanya datang sebanyak tiga kali dalam setahun. Namun sekarang siklon bisa terjadi hingga 24 kali dalam setahun.

Banjir bandang yang dirasakan oleh masyarakat Desa teluk, memang bukanlah bencana yang disebabkan oleh satu faktor saja. Ada banyak faktor yang menyertainya, sehingga datang secara beruntun tanpa jeda. Namun, keberadaanya yang berdekatan dengan PLTU Labuan sebenarnya bisa menjadi pengingat bagi kita. Bahwa keberadaan PLTU sebagai sumber energi yang masih kita gunakan, adalah sebuah faktor yang dapat menyebabkan berbagai bencana yang lebih besar.

Kondisi jalan setelah banjir akibat derasnya intensitas hujan.

Dalam bencana yang dirasakan oleh masyarakat Desa Teluk, kami menyaksikan bagaimana anak-anak kehilangan hak mereka untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman dari masalah akibat kerusakan lingkungan. Romi, salah satu warga Teluk yang kami temui di pengungsian lapangan futsal Margono, Kp. Kalumpang menceritakan bagaimana anak-anaknya mengalami trauma paska gelombang pasang yang menyeret mereka. “Meskipun berapa hari ini cerah, tapi anak-anak takut untuk pulang ke rumah. Makanya kalau malem kita balik lagi ke pengungsian biar anak-anak nggak takut”, ujarnya. Seorang pengungsi lain menceritakan tentang bagaimana sulitnya ketika ia harus memilih antara menyelamatkan dirinya sendiri, memastikan keamanan anak-anaknya yang masih balita, atau menyelamatkan orangtuanya yang sudah sepuh terlebih dahulu.

Erik Franklin, seorang pakar pada Lembaga Biologi Kelautan di Universitas Hawaii pernah menyatakan bahwa manusia akan menghadapi bencana besar yang disebabkan oleh interaksi berbagai peristiwa alam yang disebabkan peningkatan suhu bumi. Jumlah peningkatan karbon dioksida, gas methana serta gas-gas penghasil efek rumah kaca lainnya yang terus kita hamburkan telah memicu berbagai bencana alam yang dampaknya kembali lagi pada manusia. Di wilayah yang kering, peningkatan suhu iklim seringkali memicu terjadinya musim kemarau panjang, gelombang panas, hingga kebakaran hutan. Sementara itu di bagian yang lebih lembab, seringkali mendatangkan hujan lebat yang mengakibatkan bencana lainnya seperti badai, tanah longsor hingga banjir seperti yang dialami oleh masyarakat di Desa Teluk.

Anak-anak desa Teluk saat kembali ke wilayah mereka setelah banjir surut.

Namun, perubahan iklim bukanlah sebuah hal yang sama sekali tidak bisa kita kendalikan. Ada begitu banyak hasil penelitian yang telah mengungkap, bagaimana peran penggunaan energi lah yang paling berperan dalam membantu kita dalam mengendalikan perubahan iklim. Dari Desa Teluk, kita bisa menyaksikan bagaimana PLTU labuan setiap harinya membuang asap hitam ke udara. Dari Desa Teluk, kita diingatkan untuk tidak seharusnya terus menerus membiarkan keberadaan sumber energi yang sudah terbukti mendatangkan banyak bencana.

Paska banjir bandang yang menimpa Desa Teluk, kini masyarakat setempat tengah berbenah untuk bisa bangkit lagi memperbaiki kehidupan dan perekonomian yang rusak akibat bencana alam. Dan kita, juga harus terus mengupayakan perbaikan dalam pemanfaatan sumber energi yang lebih aman. Yang lebih bersih, adil, dan berkelanjutan tanpa menambah potensi akan meningkatnya suhu iklim menjadi lebih panas dari saat ini.

Lihat juga laporan bantuan kami untuk warga Desa Teluk di bit.ly/LaporanBanten






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *