Apa Itu Transisi Energi? Ternyata Bukan Hal Baru, Lho!

Pernah nggak sih kepikiran, kenapa listrik harus selalu menyala abangkuh, tapi jarang banget kita diajak ngobrolin dari mana sih asalnya? 

Kita nyalain lampu, ngidupin AC, ngecas laptop kita yang soak itu, tapi jarang bertanya: energi yang kita pakai sehari-hari itu sebenarnya datang dari mana, dan dampaknya ke siapa?

Nah, di sinilah obrolan tentang transisi energi dimulai. Tenang, ini nggak akan jadi kelas akademik atau diskusi elitis, kita bisa jelasin pake bahasa bayi.

Anggap aja kita lagi duduk bareng, ngobrol soal masa depan kita semua, dan energi ada di tengah-tengahnya. 

Apa Itu Transisi Energi?

Singkat saja kak Gem, transisi energi itu sebenarnya proses peralihan cara manusia mendapatkan dan menggunakan energi. Biasanya dari yang lama ke yang baru, dari yang lebih rebek ke yang mudah dan efisien, dari yang lebih kotor ke yang bersih.

Dan yang penting, ini tuh bukan hal baru. 

Sejak 200 tahun terakhir, manusia sudah berkali-kali melakukan transisi energi sepanjang sejarah. Jadi, transisi energi itu bukan tren mendadak atau kefomoan manusia modern, tapi lanjutan dari perjalanan panjang manusia bertahan hidup. 

Dulu, perubahan itu datang barengan sama teknologi baru, mulai dari mesin uap, lampu minyak, sampai listrik yang akhirnya jadi bagian dari hidup sehari-hari. Waktu dunia mulai beralih dari bertani ke industri, kebutuhan energi ikut meledak. Cara lama jelas nggak lagi cukup.

Transisi energi yang lagi ramai dibahas sekarang juga soal perubahan besar. Bedanya, kali ini bukan cuma soal cari energi yang lebih praktis atau murah, tapi soal mencegah krisis iklim makin parah. Kalau emisi gas rumah kaca terus dibiarkan, dampaknya bukan lagi wacana, tapi nyata. 

Secara ringkas, situasinya tergambar jelas lewat visualisasi data dari World Economic Forum di bawah ini:

Source: WEF, 2022

Kalau ditarik ke belakang….

  1. Zaman Purba

Kurang lebih ratusan ribu tahun lalu, awalnya energi manusia itu super sederhana. Sesederhana tenaga tubuh dan api. Masak pakai kayu atau kotoran hewan kering, rumah dihangatkan dengan api, dan kerja berat mengandalkan tenaga otot, angin, atau air. Mau ke mana-mana? Naik gerobak yang ditarik kuda. Energi di fase ini bukan soal kenyamanan, tapi soal hidup atau mati. Manusia mengambil secukupnya, karena alam juga memberi secukupnya.

2. Zaman Agraris

Seiring waktu, manusia mulai “pintar” dan belajar “meminjam” tenaga alam. Angin menggerakkan layar kapal. Air memutar kincir penggiling gandum. Hewan membantu membajak sawah. Di titik ini, energi mulai mengubah cara manusia hidup. Produksi makanan meningkat, perdagangan berkembang, dan jarak antar manusia makin dekat. Ini transisi energi pertama: dari otot manusia ke energi alam. Energi tidak lagi sekadar alat bertahan hidup, ia mulai membentuk peradaban.

3. Revolusi Industri (Turning Point )

Akhir 1700-an adalah titik balik. Perubahan paling besar datang saat manusia menemukan batu bara. Mesin uap mengubah segalanya. Pabrik berdiri, kota tumbuh cepat, dan dunia masuk ke era yang kita kenal sebagai Revolusi Industri. 

Mesin uap ini sangat bergantung pada batu bara. Di rumah-rumah, batu bara juga dipakai untuk menghangatkan ruangan dan memasak. Nggak heran, porsi batu bara dalam bauran energi global melonjak drastis: dari cuma 1,7% pada 1800, jadi 47,2% di tahun 1900.

Energi fosil membuat produksi bisa dilakukan dalam skala besar dan waktu singkat. Hidup jadi lebih cepat, lebih efisien, produksi massal, dan lebih padat. Tapi di balik itu, ada ongkos yang pelan-pelan mulai terasa: udara kotor, kerja yang eksploitatif, dan alam yang dikeruk besar-besaran. Ini transisi energi tercepat dan paling brutal dalam sejarah.

4. Abad 20 (Naiknya Minyak dan Gas)

Sekitar tahun 1900-an, minyak dan gas mengambil alih. Ia jadi primadona karena gampang diangkut, energinya padat, cocok buat transportasi dan industri. 

Mobil, pesawat, listrik massal, dan industri modern bergantung penuh pada energi ini. Hasilnya? Hidup semakin cepat, konsumsi makin besar, ketergantungan global pada energi fosil. 

Meski begitu, batu bara tidak benar-benar pergi. Ia justru jadi tulang punggung pembangkit listrik dunia, dan sampai hari ini masih menyumbang lebih dari sepertiga produksi listrik global.

Grafik emisi karbon juga ikut naik tanpa henti. Bumi memanas, cuaca makin ekstrem, dan krisis iklim mulai menjadi kenyataan, bukan sekadar prediksi ilmuwan.

5. Abad 21

Di sinilah kita sekarang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia sadar bahwa cara kita menggunakan energi mengancam keberlangsungan hidup kita sendiri. Transisi energi hari ini bukan terjadi karena kita menemukan energi baru yang keren dan gacor, tapi karena energi lama sudah terlalu berbahaya untuk dipertahankan

Dalam dua dekade terakhir, porsi energi terbarukan di bauran energi global memang naik, meski awalnya lambat. Antara 2000–2010, kenaikannya cuma 1,1%. Tapi lajunya makin cepat. Di periode 2010–2020 saja, kontribusinya bertambah 3,5%.

Dalam Perjanjian Paris, dunia bersepakat untuk mengejar emisi nol bersih pada 2050 sebagai target iklim global. Artinya, dalam waktu kurang dari 30 tahun, bahan bakar fosil harus ditinggalkan dan energi terbarukan harus naik drastis.

Pembakaran minyak, gas, dan batu bara telah memungkinkan standar hidup yang jauh lebih tinggi bagi manusia melalui inovasi radikal dalam teknologi dan sains selama 150 tahun terakhir. Namun selama beberapa dekade, para ilmuwan telah memberikan bukti yang jelas bahwa emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil membahayakan spesies kita dan banyak spesies lainnya.

Transisi energi berarti mengubah sistem energi dari yang berbasis fosil ke sumber yang lebih bersih, seperti matahari, angin, air, dan panas bumi. Tapi ini bukan sekadar soal ganti teknologi. Ini soal mengubah kebiasaan, ekonomi, dan relasi kuasa. Soal siapa yang mengontrol energi, siapa yang menikmati manfaatnya, dan siapa yang selama ini menanggung dampaknya.

Dulu, transisi energi terjadi tanpa banyak pertanyaan. Sekarang, pertanyaannya justru makin banyak. Apakah energi bersih akan benar-benar adil? Apakah anak muda, warga lokal, dan komunitas terdampak akan dilibatkan? Atau kita cuma memindahkan masalah dari satu sumber ke sumber lain?

Itulah kenapa transisi energi hari ini terasa ribet dan penuh debat. Karena ini bukan cuma cerita tentang listrik atau pembangkit, tapi tentang masa depan hidup manusia. Tentang udara yang kita hirup, pekerjaan yang tersedia, dan bumi yang akan kita tinggali puluhan tahun ke depan.

Jadi kalau ada yang tanya, “apa itu transisi energi, cuy?” jawabannya sederhana: ini adalah usaha manusia memperbaiki hubungan dengan energi, sebelum hubungan itu menghancurkan kita sepenuhnya.  

Setelah tahu apa itu transisi energi, kalian sudah tahu belum jenis-jenis energi yang ada di Indonesia? Lalu, apakah di dalamnya ada potensi energi terbarukan yang bisa kita andalkan?

Yuk, lanjut baca ke artikel berikutnya! Kalau kalian punya saran topik atau isu yang mau dibahas di Bilik Belajar, kasih pendapatmu di kolom komentar ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *